banner 728x250

Ratusan Massa AWDB Geruduk Pendopo Indramayu, Tuntut Klarifikasi Pernyataan Stafsus Bupati yang Dinilai Rasis

banner 120x600
banner 468x60

Indramayu | Rajawalinusantaratv.id

Gabungan LSM dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Indramayu menepati janjinya. Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Wong Dermayu Bersatu (AWDB) menggelar aksi damai di depan Pendopo Kabupaten Indramayu, Senin (19/1/2026).

banner 325x300

Aksi tersebut digelar untuk menuntut klarifikasi atas pernyataan Staf Khusus (Stafsus) Bupati Indramayu, Salman, yang dinilai bernada rasis serta memicu keresahan dan kegaduhan di tengah masyarakat Indramayu.

Ratusan Massa AWDB Geruduk Pendopo Indramayu, Tuntut Klarifikasi Pernyataan Stafsus Bupati yang Dinilai Rasis

Namun, massa aksi yang sejak pagi berkumpul dan sempat menutup akses masuk Pendopo Pemkab Indramayu harus menelan kekecewaan. Pasalnya, sosok yang menjadi tuntutan utama, yakni Stafsus Bupati Indramayu Salman, tidak menemui massa aksi.

“Orang Indramayu tidak pengecut. Jika saudara Stafsus Bupati Indramayu, Salman, jantan dan tidak pengecut, temui kami di sini untuk mempertanggungjawabkan ucapannya yang bernada rasis,” teriak salah satu orator aksi, Sekjen BPPKB Kabupaten Indramayu, Beni, dengan suara lantang.

Pantauan di lapangan, sejak pagi peserta aksi yang berasal dari berbagai unsur LSM, organisasi kemasyarakatan, aktivis, hingga masyarakat umum berkumpul di kawasan Sport Center Indramayu. Massa kemudian bergerak menuju Pendopo Kabupaten Indramayu dengan melakukan long march melalui Jalan Jenderal Sudirman.

Sesampainya di lokasi, massa memadati area pendopo yang selama ini diketahui menjadi tempat berkantornya Staf Khusus Bupati Indramayu, Salman. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, massa menegaskan pentingnya etika, sikap, dan tanggung jawab moral seorang pejabat publik dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik agar tidak melukai perasaan masyarakat.

Koordinator Umum AWDB, Asmawi Day, menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi warga secara damai dan konstitusional. Menurutnya, klarifikasi secara terbuka sangat diperlukan agar polemik yang berkembang tidak terus menimbulkan kegaduhan sosial di tengah masyarakat Indramayu.

Usai rangkaian orasi, aparat kepolisian memfasilitasi pertemuan antara perwakilan massa dengan pihak Pemerintah Kabupaten Indramayu. Sejumlah perwakilan AWDB dipersilakan masuk ke dalam pendopo untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.

Namun demikian, audiensi tersebut dinilai belum memenuhi harapan massa. Pasalnya, perwakilan aksi tidak dapat berdialog langsung dengan Stafsus Bupati Indramayu Salman maupun Bupati Indramayu Lucky Hakim selaku pihak yang dinilai memiliki kewenangan dalam menyikapi persoalan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, massa hanya ditemui oleh Kasat Pol PP dan Damkar Kabupaten Indramayu, Teguh Budiarso. Kondisi ini pun memicu kekecewaan di kalangan peserta aksi.

Sekjen BPPKB Banten, Beni, menegaskan pihaknya belum puas dengan hasil audiensi. Ia menyatakan massa menginginkan klarifikasi langsung dari Salman atas pernyataan yang dinilai arogan dan tidak beradab.

“Kami akan melakukan aksi yang lebih besar jika tuntutan ini tidak dipenuhi. Kami ingin berhadapan langsung dan mendapatkan kejelasan dari Salman,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan aksi, Tomi Susanto, menegaskan bahwa aksi damai ini merupakan peringatan awal. Menurutnya, massa masih membuka ruang dialog, namun berharap pemerintah daerah bersikap terbuka dan serius menanggapi tuntutan masyarakat.

“Kami datang dengan itikad baik dan cara damai. Aspirasi ini harus dijawab secara jelas. Jika tidak ada kejelasan, tentu akan ada langkah lanjutan sesuai mekanisme yang berlaku,” tegas Tomi Susanto bersama Andri Prayitna.

Tomi juga menegaskan tuntutan massa agar Salman angkat kaki dari Indramayu, bahkan bila perlu dipulangkan ke daerah asalnya sebagai konsekuensi atas ucapannya yang dinilai rasis, tidak beretika, serta tidak mampu menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat Indramayu.

Diketahui, aksi unjuk rasa ini diikuti oleh sejumlah organisasi, di antaranya BPPKB, Penjara, Manggala, WN 88, Pemuda Pancasila, IMI, XTC, PASKAS, Kiansantang, GIBAS, dan Brigade 08.

Hingga berita ini diturunkan, Staf Khusus Bupati Indramayu, Salman, belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan massa aksi.

Sementara itu, Kasat Pol PP dan Damkar Kabupaten Indramayu, Teguh Budiarso, menyampaikan bahwa seluruh aspirasi massa telah ditampung untuk diteruskan kepada pimpinan daerah.

“Aspirasi dari rekan-rekan sudah kami tampung dan selanjutnya akan kami sampaikan kepada pimpinan,” ujarnya.

(Atim Sawano)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *