Indramayu, Rajawalinusantaratv.id
– Sektor pertanian di Kabupaten Indramayu kembali mendapat angin segar melalui pembangunan Irigasi Perpompaan (IRPOM) di Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi. Proyek yang didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kementerian Pertanian ini menjadi harapan baru bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.
Keberadaan IRPOM tidak hanya menghadirkan infrastruktur pengairan modern, tetapi juga menjadi solusi atas persoalan keterbatasan air yang selama ini dihadapi petani, terutama saat musim kemarau. Keberhasilan program tersebut juga ditentukan oleh sinergi antara pemerintah pusat dengan para pemimpin kelompok tani di tingkat desa.
Salah satu tokoh yang berperan aktif mengawal pembangunan ini adalah Warma, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Warga Makmur. Ia memastikan setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai dengan spesifikasi teknis agar menghasilkan bangunan yang berkualitas, kokoh, dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Kami tidak ingin sekadar membangun, tetapi membangun dengan kualitas. Seluruh pekerjaan harus mengikuti standar teknis agar menghasilkan bangunan yang kokoh, tahan lama, dan mampu memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Warma saat meninjau lokasi proyek, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, keberadaan irigasi perpompaan akan menjadi fondasi penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Dengan pasokan air yang lebih stabil, petani diharapkan mampu meningkatkan intensitas tanam dari satu kali menjadi dua bahkan tiga kali panen dalam setahun.
Pembangunan IRPOM di Desa Jatimunggul merupakan bagian dari program strategis Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan lahan kering (upland). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa program pompanisasi merupakan langkah nyata untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim.
“Harapan kita seluruh Indonesia, tanah-tanah lahan kering atau daerah upland yang panen satu kali bisa menjadi dua kali bahkan tiga kali karena kita akan pasang pompa,” ujar Menteri Pertanian.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp4 hingga Rp5 triliun. Program ini ditargetkan mampu menjangkau sekitar 1 juta hektare lahan pertanian dengan potensi peningkatan produksi rata-rata 6 ton gabah per hektare, sehingga berpeluang menambah produksi gabah nasional hingga 6 juta ton.
Di tingkat lokal, manfaat program tersebut mulai dirasakan masyarakat. Warma optimistis, setelah IRPOM beroperasi, distribusi air ke seluruh hamparan sawah di Desa Jatimunggul akan lebih merata. Kondisi itu diyakini mampu meningkatkan kesuburan lahan, menjaga pertumbuhan tanaman, serta menekan risiko gagal panen akibat kekeringan.
“Semoga dengan adanya irigasi perpompaan ini, pertanian di Desa Jatimunggul semakin maju. Harapan kami, kesejahteraan petani ikut meningkat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tambahnya.
Keberadaan IRPOM juga dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Barat, Kabupaten Indramayu membutuhkan sistem irigasi yang andal agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan pasokan beras nasional semakin kuat.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta Gapoktan Warga Makmur menjadi contoh nyata keberhasilan pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat. Para petani kini menaruh harapan besar agar proyek IRPOM segera rampung dan beroperasi optimal, sehingga mampu membawa perubahan bagi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.
(Atim Sawano)

















