banner 728x250

Dana BOS Menguap, Fasilitas Sekolah Tinggal Harapan di SMP Tahfidz Al Hidayah

banner 120x600
banner 468x60

Dana BOS Menguap, Fasilitas Sekolah Tinggal Harapan di SMP Tahfidz Al Hidayah

Indramayu, Rajawalinusantaratv.id
— Aroma tak sedap dari pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kembali mencuat. Kali ini, sorotan datang dari SMP Tahfidz Qur’an Al Hidayah di Desa Jatimulya, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Sejumlah warga mengaku kecewa, bahkan geram, melihat kondisi sekolah yang dinilai jauh dari kata layak, meski dana BOS disebut sudah mengalir sejak tahun 2018.

banner 325x300

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, kondisi sarana dan prasarana sekolah sangat memprihatinkan. Ia mengaku telah meninjau langsung ke lokasi dan mendapati minimnya fasilitas dasar pendidikan.

“Melihat kondisi sekolah, ini bukan sekadar kurang layak, tapi seperti tak tersentuh anggaran. Buku tidak ada, komputer apalagi. Jangankan satu unit, setengahnya pun tidak terlihat,” ujarnya dengan nada kecewa.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Sumur Watu, Blok Pedati 1 tersebut telah berdiri kurang lebih delapan tahun dengan jumlah siswa sekitar 120 orang. Dengan jumlah tersebut, warga menilai alokasi dana BOS seharusnya cukup signifikan untuk mendukung fasilitas belajar yang memadai.

“Kalau dana BOS cair tiap tahun, logikanya pasti ada perubahan. Tapi ini stagnan, bahkan cenderung seperti tidak pernah ada anggaran yang masuk,” lanjutnya.

Kekecewaan warga semakin memuncak saat menyinggung soal transparansi Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS). Alih-alih mendapatkan penjelasan, warga justru mengaku mendapat jawaban yang terkesan mengelak.

“Ditanya soal APBS, katanya tidak punya. Ini bukan hanya aneh, tapi patut dipertanyakan. APBS itu dasar pengelolaan dana, masa tidak ada?” katanya.

Tak hanya itu, sikap kepala sekolah juga dinilai tidak menunjukkan tanggung jawab penuh. Saat dimintai keterangan, kepala sekolah justru mengarahkan seluruh pertanyaan kepada bendahara BOS.

“Kepala sekolah seperti lepas tangan. Semua dilempar ke bendahara BOS. Seolah-olah kendali sekolah bukan di kepala sekolah, tapi di bendahara,” ungkapnya.

Warga juga menyoroti dugaan kuat adanya dominasi kekuasaan oleh bendahara BOS yang sekaligus merangkap sebagai bendahara yayasan. Posisi tersebut disebut-sebut tidak pernah berganti dan terkesan tak tersentuh evaluasi.

“Guru-guru memilih diam. Katanya kalau berani bersuara, risikonya bisa langsung diberhentikan. Ini sudah bukan sekadar persoalan administrasi, tapi ada tekanan,” tambahnya.

Minimnya keterlibatan orang tua siswa dalam pengelolaan sekolah semakin memperkuat dugaan adanya ketertutupan. Warga menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan meminta pihak berwenang segera turun tangan.

“Orang tua tidak pernah dilibatkan. Kami hanya ingin kejelasan. Kalau memang bersih, tunjukkan. Kalau tidak, jangan dibiarkan,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SMP Tahfidz Qur’an Al Hidayah belum memberikan klarifikasi resmi terkait berbagai dugaan tersebut.

Atim Sawano

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *