banner 728x250

Aliansi Wong Dermayu Siap Turun ke Jalan, Lawan Pernyataan Rasis Stafsus Bupati Salman

banner 120x600
banner 468x60

Indramayu | Rajawalinusantaratv.id

– Aliansi Wong Dermayu (AWD) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat Indramayu menyatakan sikap tegas siap turun ke jalan untuk melawan pernyataan bernada rasis yang diduga dilontarkan Staf Khusus (Stafsus) Bupati Indramayu, Salman.

banner 325x300

Aksi demonstrasi gabungan yang melibatkan LSM, organisasi masyarakat, aktivis, mahasiswa, hingga masyarakat umum ini dijadwalkan berlangsung pada Senin (19/1/2026).

“Kami sudah satu suara. Kami akan turun ke jalan melawan kesombongan Stafsus Bupati Indramayu, Salman, yang pernyataannya kami nilai mengarah pada rasisme. Di Indramayu tidak ada tempat bagi perilaku rasis dan tidak beradab,” tegas Koordinator Umum AWD, Asmawi Day, didampingi Koordinator Lapangan aksi, Tomi Susanto atau yang akrab disapa Tomsus.

Menurut Tomsus, hingga saat ini AWD terus mematangkan persiapan aksi, termasuk menggelar rapat teknis akhir yang dihadiri para ketua LSM, Ormas, aktivis, mahasiswa, serta perwakilan masyarakat Indramayu. Rapat tersebut juga diikuti oleh korban pemutusan hubungan kerja (PHK) tenaga outsourcing Diskominfo, yang berlangsung di kawasan Sport Center Indramayu, Jumat (16/1/2026).

“Saat ini kami tengah menyusun surat pemberitahuan resmi aksi ke Polres Indramayu. Intinya, kami melawan kesombongan Salman. Kami mendesak agar yang bersangkutan angkat kaki dari Indramayu,” ujar Tomsus dengan nada tegas.

Selain menuntut pertanggungjawaban moral atas dugaan pernyataan rasis, AWD juga akan menyoroti praktik pemutusan hubungan kerja oleh pihak vendor tenaga kerja, PT Bintang Service Management (BSM), yang dinilai semena-mena dan tidak prosedural.

Tomi menegaskan, pihaknya akan meminta kejelasan dan pertanggungjawaban PT BSM sebagai penyedia jasa outsourcing, khususnya terkait pemecatan sejumlah karyawan seperti Wanginah, Komar, dan lainnya.

Salah satu korban PHK, Wanginah (40), menyatakan akan terus memperjuangkan hak-haknya. Ia menilai pemutusan kerja yang dialaminya sarat kejanggalan, diduga tidak sesuai prosedur, serta disertai intervensi pihak luar.

“Pemecatan ini tidak beres. Banyak kejanggalan dan sudah mengarah pada tindakan otoriter. Praktik kotor seperti ini harus diluruskan demi keadilan bagi pekerja outsourcing ke depan,” tegas Wanginah.

Pernyataan Rasis di Pendopo

Sebelumnya, Stafsus Bupati Indramayu Salman menjadi sorotan publik menyusul pernyataannya yang diduga bernada rasis saat bertemu dua tenaga outsourcing Diskominfo yang dipecat, yakni Wanginah dan Komar.

Pertemuan tersebut berlangsung di Pendopo Indramayu pada malam hari, 10 Januari 2026, dan turut dihadiri Mansur, asisten pribadi Bupati Indramayu Lucky Hakim.

Kedua mantan pegawai itu datang untuk mengklarifikasi alasan pemecatan mereka, yang disebut-sebut atas tekanan Salman dan Mansur.

“Kami datang meminta penjelasan, karena kabar yang kami terima, pemecatan ini atas pesanan Mansur dan Salman,” ujar Wanginah, Jumat (16/1/2026).

Situasi pertemuan memanas ketika tudingan tersebut dibantah. Namun, di luar dugaan, Salman justru melontarkan pernyataan yang dinilai bernada rasis.

“Saya Salman, berdarah Madura, bertulang putih dan bermata putih, tidak akan pernah takut pada siapa pun. Saya tidak akan patuh pada perintah siapa pun di Indramayu kecuali Bupati Lucky Hakim, karena saya orangnya Lucky Hakim,” ujar Wanginah menirukan pernyataan Salman.

Hingga berita ini diturunkan, Stafsus Bupati Indramayu Salman belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan WhatsApp sejak Kamis (15/1/2026) belum mendapat respons.

Atim Sawano

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *