Jakarta. Rajawalinusantara TV
– Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan tajam di tengah kondisi masyarakat yang masih bergulat dengan naiknya harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian pasokan pangan.22 Agustus 2025
Sayangnya, ketahanan pangan yang sejatinya menjadi prioritas utama pemerintah, kini kian terasa hanya sebagai bahan pidato di ruang-ruang rapat dan acara formal semata.
Masyarakat di berbagai daerah mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan pangan dengan harga yang terjangkau. Sementara itu, sejumlah pejabat pemerintah terus mengumbar janji dan rencana strategis di berbagai forum publik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sedikit perubahan signifikan, yang membuat banyak pihak mempertanyakan keseriusan penanganan masalah ini.
Pengamat pertanian dan ketahanan pangan menyatakan, kurangnya sinergi antara kebijakan dengan implementasi di tingkat daerah menjadi salah satu penyebab utama kegagalan ketahanan pangan. “Ketahanan pangan bukan sekadar jargon untuk menarik simpati, melainkan harus diwujudkan dengan langkah konkret, mulai dari dukungan terhadap petani, perbaikan distribusi, hingga pengawasan harga pasar,” ujar Dr. Rahmat Hidayat, pakar ketahanan pangan.
Kondisi ini semakin ironis ketika Indonesia sebagai negara agraris masih menghadapi ketergantungan impor pangan tertentu. Padahal, potensi produksi dalam negeri sejatinya mampu memenuhi kebutuhan domestik jika dikelola dengan baik.
Dalam kesempatan yang sama, masyarakat berharap agar pemerintah tidak hanya fokus pada retorika, tetapi benar-benar memperkuat sistem ketahanan pangan nasional. Mereka mendesak adanya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran yang selama ini diklaim untuk mendukung sektor pangan.
Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan makanan, melainkan juga soal stabilitas harga dan akses yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat. Jika tidak segera ditangani secara serius, ketahanan pangan akan terus menjadi janji kosong yang merugikan rakyat banyak.
Agus Sutanto
















