Indramayu | Rajawalinusantaratv.id
– Pekerjaan rehabilitasi proyek pintu air ABC Sungai Saradan yang berlokasi di Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menuai keluhan dari para petani setempat. Proyek yang dinilai berjalan lambat tersebut berdampak langsung pada aktivitas pertanian, khususnya proses pengolahan lahan sawah.
Keluhan itu disampaikan salah seorang petani Desa Muntur, H. Sanim. Ia mengaku kecewa lantaran tidak dapat mengolah sawahnya akibat air yang menggenang tidak bisa dibuang. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena aliran Sungai Saradan dialihkan seluruhnya ke Sungai Rengas, sehingga sungai pembuang yang biasa digunakan petani menjadi penuh.

“Jangankan untuk membuat persemaian, untuk mengolah tanah saja saya kesulitan membuang air di sawah, karena Sungai Rengas penuh dengan air kiriman dari Saradan,” ujar H. Sanim, Kamis (25/12/2025).
Keluhan serupa juga disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Muntur, Yudi. Ia menjelaskan, genangan air terjadi di area persawahan Blok Kedong Kulon dengan luas mencapai sekitar 150 hektare. Akibatnya, petani tidak bisa membuang air ke saluran pembuang Sungai Rengas sebagaimana biasanya.
“Benar, saat ini sawah di Blok Kedong Kulon mengalami kesulitan membuang air ke Sungai Rengas yang selama ini menjadi saluran pembuang utama,” ungkap Yudi.
Menurutnya, permasalahan tersebut dipicu oleh pembangunan pintu air ABC yang hingga kini belum rampung. Padahal, para petani telah diproyeksikan melakukan tanam cepat pada Januari 2026 mendatang.
“Kami direncanakan tanam cepat sekitar Januari. Namun bagaimana bisa tanam kalau air di sawah tidak dapat dibuang,” keluhnya.
Yudi menegaskan, apabila hingga Januari 2026 pembangunan pintu air ABC belum juga selesai, pihaknya meminta agar aliran Sungai Saradan dialihkan sepenuhnya ke Sungai Cipanas. Hal itu dinilai sebagai solusi sementara agar petani tidak terus dirugikan.
“Jika sampai Januari pembangunan pintu air ABC belum selesai, kami meminta aliran Sungai Saradan sepenuhnya dialihkan ke Sungai Cipanas, supaya petani tidak kesulitan membuang air ke Sungai Rengas,” tegasnya.
Sementara itu, pihak PT Hutama Karya selaku pelaksana proyek pembangunan pintu air ABC belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi awak media terkait keluhan para petani tersebut.
Di sisi lain, keberhasilan program ketahanan pangan nasional yang tengah digelorakan Presiden Prabowo Subianto membutuhkan dukungan dari semua pihak. Salah satu kunci utamanya adalah memastikan kenyamanan dan keberlangsungan aktivitas petani dalam mengelola lahan pertanian. Para petani pun berharap adanya keberpihakan nyata dari pemerintah dan pihak terkait agar aktivitas tanam tidak kembali terhambat.
Atim Sawano
















