Ironi Jelang Imlek 2026: Pemalang Dikepung Banjir dan “Lautan” Sampah
PEMALANG. Rajawalinusantaratv.id
— Ironi menyesakkan menyelimuti Kabupaten Pemalang menjelang perayaan Imlek 2026. Saat warga mendambakan suasana damai dan aman, daerah ini justru menghadapi “serangan ganda” yang serius: kepungan banjir akibat cuaca ekstrem dan ancaman “lautan” sampah yang kian tak terkendali.
Hampir seluruh wilayah Jawa Tengah memang berada di puncak musim penghujan. Namun, kondisi yang terjadi di Pemalang tak bisa semata dipandang sebagai fenomena alam. Ini menjadi cermin kesiapan infrastruktur, tata kelola lingkungan, serta manajemen krisis yang patut dievaluasi secara menyeluruh.

Luka bencana pada akhir Januari lalu pun belum sepenuhnya sembuh. Banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Watukumpul dan Pulosari meluluhlantakkan puluhan rumah, merusak infrastruktur vital, bahkan merenggut korban jiwa. Belum tuntas penanganan pascabencana tersebut, wilayah dataran rendah seperti Kecamatan Pemalang dan Comal kembali terendam akibat curah hujan tinggi pada malam jelang Imlek, Senin (16/2/2026).
Ibarat “bom waktu” yang kembali meledak, air bah bukan satu-satunya musuh. Masalah klasik yang selama ini menjadi “penyakit menahun” Pemalang kembali kambuh: darurat sampah.
Pantauan awak media di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan. Di tengah genangan air, tumpukan sampah justru “menghiasi” berbagai sudut kota. Bau menyengat dan pemandangan kumuh terlihat jelas di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS). TPS Mengori dan TPS Bojongbata tampak overload, sampah meluber hingga ke badan jalan. Situasi serupa juga terjadi di pasar-pasar tradisional wilayah Pemalang Selatan.
Sampah yang tak terangkut ini bukan sekadar merusak estetika kota, tetapi juga menyumbat drainase yang seharusnya mengalirkan air hujan. Akibatnya, tercipta lingkaran setan yang memperparah banjir itu sendiri.
“Situasi ini adalah tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Pemalang. Masyarakat tidak membutuhkan sekadar permintaan maaf atau alasan klise seperti armada rusak dan TPA penuh,” tegas Mas All dari Aliansi Wartawan Pantura Bersatu.
Ia menekankan perlunya langkah konkret dan terpadu. Pembentukan tim reaksi cepat yang bekerja lintas sektor dinilai mendesak, agar penanganan banjir berjalan seiring dengan pembersihan sampah penyumbat saluran air. Pengerukan sedimen sungai secara masif saat hujan reda, serta pemasangan jaring penangkap sampah di titik-titik krusial—khususnya di sekitar pasar—juga dianggap penting untuk mencegah sampah masuk ke sungai.
“Buka ke publik kendala anggaran operasional kebersihan. Jika memang kurang, geser alokasi dana seremonial untuk penanganan darurat lingkungan. Pemalang kini berada di persimpangan jalan: membiarkan diri tenggelam dalam air dan sampah, atau bangkit dengan manajemen kota yang lebih profesional. Bola kini ada di tangan para pemangku kebijakan di Pendopo Kabupaten,” pungkasnya.
Red















