Indramayu | Rajawalinusantara TV
– Pihak SMP Negeri 1 Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, akhirnya angkat bicara terkait mencuatnya isu keberadaan segerombolan siswa yang diduga membentuk geng motor dan berani memungut iuran sebesar Rp5.000 per hari. Isu tersebut sempat menimbulkan keresahan di kalangan orang tua siswa dan masyarakat sekitar.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Gabuswetan, Warsono, saat ditemui jurnalis Rajawalinusantara TV, Atim Sawano, membenarkan bahwa pihak sekolah memang pernah menemukan adanya kelompok siswa yang berperilaku menyimpang dan mengarah pada aktivitas geng motor.
“Pihak sekolah mengakui pernah ada segerombolan siswa yang terindikasi melakukan aktivitas negatif. Namun kami tegaskan, sekolah tidak tinggal diam,” ujar Warsono.
Menurutnya, sejak awal terdeteksi, pihak sekolah langsung mengambil langkah tegas dengan melakukan pembinaan, pemanggilan orang tua, hingga memberikan sanksi keras kepada siswa yang terlibat. Bahkan, Warsono menegaskan bahwa pihak sekolah sudah mengeluarkan beberapa siswa yang terbukti melanggar aturan berat dan tidak dapat lagi dibina.
“Kami sudah memberikan peringatan keras, melakukan pembinaan berulang, dan bagi yang tidak bisa dibina lagi, sudah kami keluarkan dari sekolah. Ini sebagai bentuk komitmen kami menjaga lingkungan sekolah tetap kondusif dan aman,” tegasnya.
Terkait isu pungutan iuran Rp5.000 per hari, pihak sekolah mengaku tidak pernah mengizinkan ataupun membenarkan praktik tersebut. Warsono menyebut, segala bentuk pungutan di luar ketentuan resmi sekolah merupakan pelanggaran serius dan tidak ditoleransi.
Ia juga menambahkan bahwa pihak sekolah terus memperkuat pengawasan, meningkatkan peran guru BK, serta menjalin komunikasi intensif dengan orang tua dan pihak terkait guna mencegah munculnya kembali kelompok-kelompok serupa di lingkungan sekolah.
“Kami berharap semua pihak, termasuk orang tua dan masyarakat, ikut mengawasi dan melaporkan jika ada indikasi perilaku menyimpang. Pendidikan dan pembentukan karakter anak adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Pihak sekolah menegaskan komitmennya untuk menciptakan suasana belajar yang aman, tertib, dan bebas dari praktik kekerasan maupun budaya geng motor, demi masa depan para siswa.
Atim Sawano















