Dugaan Pungutan Harian hingga Perlakuan Kasar di SMKN 1 Gabuswetan Disorot Siswa, Realisasi Dana Masjid Dipertanyakan
Indramayu, Rajawalinusantaratv.id
– Sejumlah dugaan praktik pungutan harian dan perlakuan yang dinilai tidak pantas terhadap siswa mencuat di lingkungan SMK Negeri 1 Gabuswetan, Kabupaten Indramayu.
Keluhan tersebut disampaikan oleh seorang siswi yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan dan kenyamanan.
Kepada awak media pada Rabu (17/6/2026),
siswi tersebut mengungkapkan bahwa selama hampir satu tahun bersekolah, para siswa disebut diwajibkan membayar iuran sebesar Rp2.000 setiap hari sekolah. Iuran tersebut, menurutnya, disampaikan untuk kepentingan pembangunan masjid sekolah.
Namun, yang menjadi pertanyaan besar bagi para siswa adalah belum terlihatnya realisasi pembangunan yang dimaksud. Padahal, pungutan tersebut diklaim telah berlangsung cukup lama dan melibatkan banyak siswa.
“Setiap hari diminta Rp2.000. Katanya untuk pembangunan masjid sekolah, tapi sampai sekarang belum terlihat pembangunan apa pun. Saya sudah hampir setahun sekolah di sini dan pungutan itu sudah ada sejak awal masuk,” ungkapnya.
Tak hanya itu, siswi tersebut juga mengaku adanya sejumlah pengeluaran lain yang harus ditanggung siswa dalam berbagai kegiatan sekolah. Menurutnya, pada hari Jumat siswa yang mengikuti kegiatan tertentu dikenakan iuran tambahan, mulai dari kas ekstrakurikuler hingga kegiatan keagamaan, sehingga total pengeluaran dapat mencapai sekitar Rp5.000 dalam sehari.
Lebih jauh, ia mengungkapkan adanya dugaan tekanan psikologis terhadap siswa yang tidak membayar iuran. Sejumlah siswa disebut merasa khawatir mendapat teguran atau perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman apabila tidak memenuhi kewajiban tersebut.
“Banyak yang sebenarnya keberatan, tapi takut bicara. Kalau tidak bayar kadang ada yang merasa dipermalukan atau ditegur,” ujarnya.
Sorotan tidak berhenti pada persoalan pungutan. Siswi tersebut juga menyinggung adanya dugaan perilaku kasar yang dilakukan oleh oknum guru terhadap siswa. Ia mengaku sering mendengar keluhan mengenai penggunaan kata-kata yang dianggap tidak pantas hingga dugaan tindakan fisik yang disebut pernah terjadi di lingkungan sekolah.
“Kalau soal kata-kata kasar itu sering jadi pembicaraan siswa. Bahkan ada cerita tentang oknum yang mudah main tangan, tapi kebanyakan siswa takut melapor atau bicara terbuka,” tuturnya.
Menurut pengakuannya, pernah pula beredar informasi mengenai seorang siswa yang mengalami tekanan setelah merekam dugaan tindakan kasar yang dilakukan oleh oknum guru. Meski demikian, informasi tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari pihak terkait.
Tak kalah menghebohkan, siswi tersebut juga mengklaim pernah mendengar adanya dugaan pengambilan uang milik siswa yang tersimpan di saku seragam. Dugaan kejadian tersebut disebut menambah keresahan di kalangan peserta didik.
Selain itu, ia menyinggung adanya pemberian amplop kepada wali murid saat pembagian rapor. Namun hingga kini belum diketahui secara jelas maksud, tujuan, maupun mekanisme penggunaan amplop tersebut.
Menindaklanjuti berbagai keluhan tersebut, awak media mendatangi SMKN 1 Gabuswetan untuk melakukan konfirmasi. Namun saat kunjungan berlangsung, Kepala Sekolah tidak berada di tempat. Awak media kemudian diterima oleh perwakilan sekolah, R. Andrian Dewandaru.
Saat dimintai tanggapan, Andrian mengaku belum mengetahui secara pasti kebenaran berbagai informasi yang disampaikan siswa tersebut.
“Secara pribadi saya belum mengetahui kebenaran informasi itu. Terkait adanya iuran, saya juga sudah menanyakan kepada beberapa rekan guru dan sejauh ini belum ada yang mengetahui secara pasti,” ujarnya.
Menurut Andrian, apabila memang terdapat program atau kebijakan yang melibatkan pungutan kepada siswa, semestinya hal tersebut diketahui secara terbuka oleh unsur guru maupun staf sekolah.
“Kalau memang ada kebijakan seperti itu, seharusnya diketahui bersama. Saya sendiri baru mendengar informasi ini hari ini,” katanya.
Terkait dugaan pungutan yang disebut diperuntukkan bagi pembangunan masjid sekolah, Andrian juga mengaku belum mengetahui secara rinci mengenai program tersebut. Bahkan, ia menyebut hingga saat ini belum melihat adanya realisasi pembangunan yang dimaksud.
“Kalau memang untuk pembangunan masjid, sejauh yang saya ketahui memang belum terlihat realisasinya,” tambahnya.
Munculnya berbagai dugaan tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai transparansi pengelolaan dana yang bersumber dari siswa serta kondisi perlindungan peserta didik di lingkungan sekolah.
Terlebih, jika benar terdapat pungutan yang dilakukan secara rutin, maka perlu ada penjelasan terbuka mengenai dasar kebijakan, mekanisme pengelolaan dana, serta bentuk pertanggungjawabannya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SMKN 1 Gabuswetan belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai dugaan yang disampaikan siswa.
Awak media masih terus berupaya memperoleh konfirmasi lanjutan guna menghadirkan informasi yang lengkap, berimbang, dan sesuai dengan prinsip jurnalistik.
(Atim Sawano)

















