banner 728x250

“Puncak Perayaan Syawalan Gunungan Megono di Pekalongan: Tradisi yang Sarat Makna Kebersamaan dan Syukur”

banner 120x600
banner 468x60

“Puncak Perayaan Syawalan Gunungan Megono di Pekalongan: Tradisi yang Sarat Makna Kebersamaan dan Syukur”

 

banner 325x300

Pekalongan, Rajawalinusantaratv.id

– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan sukses menggelar tradisi tahunan Syawalan Gunungan Megono di Obyek Wisata Linggoasri, Kajen, pada Senin, 7 April 2025. Acara ini menjadi puncak perayaan Syawalan, yang dikemas dengan budaya khas Pekalongan yang sarat makna kebersamaan dan rasa syukur.

 

Ribuan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Pekalongan dan daerah sekitarnya tampak memadati lokasi untuk menyaksikan kirab gunungan serta berebut gunungan megono dan hasil bumi yang berasal dari 19 kecamatan se-Kabupaten Pekalongan. Gunungan-gunungan tersebut diyakini membawa keberkahan bagi masyarakat.

“Puncak Perayaan Syawalan Gunungan Megono di Pekalongan: Tradisi yang Sarat Makna Kebersamaan dan Syukur”

Dalam acara tersebut, Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, hadir bersama suaminya, Ashraff Abu, yang juga anggota DPR RI Komisi X sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Pekalongan. Turut hadir Wakil Bupati Pekalongan, Sukirman, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Abdul Munir, serta perwakilan Forkopimda.

Dalam sambutannya, Bupati Fadia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan untuk menjaga dan melestarikan tradisi Syawalan Gunungan Megono agar semakin dikenal luas. “Mari kita lestarikan budaya megono syawalan ini, agar menjadi kebanggaan Kabupaten Pekalongan yang dapat dikenal tidak hanya di sekitar, tetapi juga di seluruh nusantara,” ujarnya.

 

Senada dengan itu, Wakil Bupati Sukirman menegaskan bahwa tradisi ini lebih dari sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, tradisi ini merupakan bentuk syukur, simbol kebersamaan, dan cerminan kearifan lokal. “Megono, yang merupakan makanan sehari-hari khas Pekalongan, bukan hanya sekadar kuliner, tetapi juga simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan gotong royong. Setiap gunungan megono yang terbuat dari nangka muda atau gori, yang diolah dengan rempah-rempah, mencerminkan harmoni dalam perbedaan, layaknya kehidupan masyarakat Pekalongan yang beragam namun tetap rukun dan bersatu,” jelas Sukirman.

 

Di penghujung acara, Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan berkesempatan memberikan penghargaan serta uang pembinaan kepada para pemenang Lomba Kirab Gunungan Hasil Bumi dan Potensi Lokal Tradisi Syawalan 2025.

 

Red/sus

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *