*TOGEL DAN LINGKARAN KEMISKINAN DI KOTA PEKALONGAN*.
Oleh: Istiadi Boesro
Judi togel masih menjadi fenomena yang sulit dilepaskan dari kehidupan sebagian warga Kota Pekalongan.
Tidak sedikit masyarakat kita, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, yang menjadikan togel sebagai harapan semu untuk memperbaiki keadaan hidup.
Penjualan kupon togel bahkan dilakukan secara terbuka di beberapa wilayah. Para pengecer dengan mudah melayani pemasangan angka tanpa rasa khawatir, seolah kegiatan ini telah menjadi hal biasa. Ketiadaan tindakan tegas dari aparat penegak hukum semakin menumbuhkan anggapan bahwa praktik ini “aman-aman saja”.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, Persentase Penduduk Miskin di Kota Pekalongan adalah 6,14%, menempatkannya di urutan bawah dibandingkan kota lain di Jawa Tengah, dengan Garis Kemiskinan mencapai Rp 639.402 per kapita per bulan, menunjukkan perbaikan dari tahun sebelumnya.
Dengan demikian, puluhan ribu warga masih harus berjuang di bawah garis kemiskinan — hidup dari pengeluaran yang sangat terbatas. Dalam kondisi demikian, ketika sebagian dari mereka memilih memasang harapan pada togel, risikonya sangat nyata: uang untuk kebutuhan dasar, uang belanja keluarga, atau bahkan bantuan sosial bisa habis sia-sia.
Pemerintah pusat maupun daerah telah menggulirkan berbagai program penanggulangan kemiskinan seperti PKH, BPNT, hingga BSU. Namun, upaya itu akan terus melemah jika sebagian penerima manfaat kembali terjerat permainan yang justru memperparah kemiskinan mereka sendiri.
Masalah ini bukan semata soal pelanggaran hukum. Judi togel telah menjadi problem sosial yang merusak ekonomi keluarga, memicu konflik rumah tangga, dan menanamkan budaya ingin cepat kaya tanpa usaha yang realistis. Jika dibiarkan, generasi mendatang bisa saja tumbuh dengan pemahaman keliru tentang cara meraih keberhasilan.
Karenanya, langkah tegas dan kolaboratif sangat dibutuhkan:
Aparat kepolisian perlu meningkatkan penindakan dan menunjukkan bahwa negara hadir dalam memberantas perjudian ilegal.
Tokoh masyarakat, agama, dan pendidikan harus aktif memberikan penyadaran bahwa togel bukan jalan keluar dari persoalan ekonomi.
Pemerintah Kota Pekalongan perlu memperluas program pemberdayaan ekonomi keluarga yang memberi kesempatan usaha, bukan peluang untuk terjebak pada perjudian.
Perubahan tidak dapat terjadi tanpa kepedulian bersama.
Sudah saatnya warga Kota Pekalongan menolak praktik togel sebagai bagian dari budaya sosial kita.
Kota ini dikenal sebagai kota kreatif, kota batik, dan kota yang warganya pekerja keras. Jangan biarkan citra itu tercoreng hanya karena sebagian dari kita masih menaruh harapan pada putaran angka yang tak pasti. Keberhasilan sejati dibangun dari usaha, bukan dari perjudian.

















