Prof. Dr. Sutan Nasomal: “Senyum Jenderal Soeharto adalah Cermin Kemakmuran Indonesia”

banner 120x600

Prof. Dr. Sutan Nasomal: “Senyum Jenderal Soeharto adalah Cermin Kemakmuran Indonesia”

Media Rajawalinusantara TV

banner 325x300

Jakarta, 9 November 2025

– Guru Besar Hukum Internasional sekaligus Tokoh Pers Nasional, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025 kepada seluruh rakyat Indonesia.

Ucapan tersebut disampaikannya melalui wawancara bersama para pimpinan redaksi media cetak dan daring, langsung dari kantor pusat Partai Oposisi Merdeka di Jakarta, melalui sambungan telepon.

Prof. Dr. Sutan Nasomal: “Senyum Jenderal Soeharto adalah Cermin Kemakmuran Indonesia”

Dalam pesannya, Prof. Sutan mengenang jasa besar Jenderal H. M. Soeharto, Presiden ke-2 Republik Indonesia, yang menurutnya telah meninggalkan jejak sejarah luar biasa bagi kemajuan bangsa.

“Senyum Sang Jenderal Soeharto adalah simbol kemakmuran Indonesia. Beliau membawa negeri ini dari masa penuh kesulitan menuju era kejayaan yang disegani dunia,” ujar Prof. Sutan.

Dari Masa Sulit Menuju Kejayaan

Prof. Sutan menjelaskan, pada awal masa pemerintahan Jenderal Soeharto, Indonesia baru saja bangkit dari situasi ekonomi yang berat dan konflik politik yang kompleks pasca-pemberontakan PKI.

Pada tahun 1970-an, Indonesia masih tergolong negara miskin dengan penduduk lebih dari 100 juta jiwa.

Namun, dengan tekad dan visi besar, Jenderal Soeharto meluncurkan berbagai program pembangunan, salah satunya program transmigrasi, yang membuka lahan-lahan baru bagi masyarakat kurang mampu untuk memiliki tanah dan menggarap pertanian.

Kebijakan ini tidak hanya memeratakan penduduk, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Indonesia diakui dunia sebagai salah satu negara penghasil beras terbesar,” tutur Prof. Sutan.

Era Pembangunan dan Industrialisasi

Memasuki dekade 1980-an, Jenderal Soeharto membuka kawasan industri terbesar di Asia, menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber daya alam yang melimpah dikelola secara optimal sehingga pada tahun 1990, Indonesia mencapai puncak pertumbuhan ekonomi.

Pemerataan pembangunan berlangsung dari Sabang sampai Merauke. Pembangunan infrastruktur, seperti jalan raya, jalan tol antar kota, dan jaringan listrik desa, menjadi bukti nyata dari keberhasilan program pemerintah kala itu.

Selain itu, program ABRI Masuk Desa juga memberikan dampak signifikan bagi masyarakat pedesaan.

Desa-desa yang dulunya terisolasi kini memiliki akses jalan, jembatan, dan listrik.

“Program ABRI Masuk Desa adalah strategi cerdas. Ia menghubungkan rakyat dan pemerintah secara langsung melalui karya nyata,” jelas Prof. Sutan.

Pendidikan, Koperasi, dan Kemandirian Ekonomi

Di bidang pendidikan, prinsip “Tut Wuri Handayani” menjadi pedoman utama mencerdaskan anak bangsa.

Sementara itu, sistem koperasi dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat desa, membantu petani, dan menstabilkan harga kebutuhan pokok.

Pemerintah juga mendorong kemajuan kampung nelayan dengan menyediakan kredit murah untuk perahu dan fasilitas pelelangan ikan yang lebih mudah dijangkau.

“Semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi menjadi fondasi kokoh dalam membangun Indonesia,” ujar Prof. Sutan.

Warisan Kepemimpinan dan Doa untuk Masa Depan

Menurut Prof. Sutan, Senyum Sang Jenderal Soeharto adalah lambang ketenangan dan keyakinan dalam memimpin bangsa.

Indonesia yang majemuk, dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa, mampu bersatu di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Bahasa Indonesia menjadi perekat nasional, dan nilai musyawarah menjadikan bangsa ini tetap rukun dalam perbedaan.

Beliau juga mengingatkan bahwa di masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia menjadi negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia, sekaligus berhasil meluncurkan Satelit Palapa, bukti kemajuan teknologi dan kedaulatan komunikasi nasional.

“Kita semua berutang budi kepada Jenderal H. M. Soeharto. Beliau adalah sosok pahlawan besar yang membangun Indonesia menjadi bangsa yang disegani,” tegas Prof. Sutan.

Menutup pesannya, Prof. Sutan berharap agar Presiden RI, Jenderal H. Prabowo Subianto, dapat menjadikan momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 sebagai saat yang tepat untuk menetapkan Jenderal H. M. Soeharto sebagai Pahlawan Besar Indonesia.

“Semoga para pemimpin bangsa selanjutnya dapat melanjutkan perjuangan dengan pengabdian yang tulus demi Indonesia yang semakin maju, makmur, dan berdaulat,” pungkasnya.

Narasumber:

Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH

Guru Besar Hukum Internasional, Tokoh Pers Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka,

Pendiri dan Pengasuh Ponpes Assaqqa Plus.

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *