Indramayu, RajawalinusantaraTV.id
– SMAN 1 Losarang tengah menjadi perhatian publik setelah dua peristiwa berbeda mencuat hampir dalam waktu yang bersamaan. Di satu sisi, sekolah ini berhasil mengukir prestasi membanggakan melalui salah satu siswinya yang lolos menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun di sisi lain, beredarnya video viral yang memperlihatkan sejumlah pelajar diduga membawa senjata tajam (sajam) turut menyeret nama sekolah ke tengah sorotan masyarakat.
Prestasi membanggakan tersebut datang dari seorang siswi kelas X SMAN 1 Losarang yang berhasil melewati seleksi ketat dan resmi terpilih sebagai anggota Paskibra Jawa Barat. Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar sekolah serta masyarakat Kabupaten Indramayu karena menunjukkan kualitas dan potensi generasi muda daerah.
Namun kebanggaan itu seakan dibayangi oleh munculnya video yang viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah pelajar mengenakan seragam sekolah berboncengan tiga menggunakan sepeda motor Yamaha NMAX di wilayah Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Video tersebut menjadi perhatian luas setelah muncul dugaan adanya pelajar yang membawa senjata tajam.
Selain itu, beredar informasi bahwa rangkaian kejadian tersebut diduga menyebabkan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar mengalami trauma. Peristiwa tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat yang menilai aksi para pelajar itu berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Menanggapi viralnya video tersebut, seorang pelajar SMAN 1 Losarang berinisial A memberikan klarifikasi kepada awak media saat ditemui di kediamannya di Blok Kertajadi, Desa Santing, Kecamatan Losarang.
Dalam keterangannya, A mengaku mengetahui kejadian yang menjadi perbincangan publik tersebut. Ia menjelaskan bahwa pelajar yang diduga menabrak seorang anak perempuan bukan berasal dari SMAN 1 Losarang, melainkan siswa dari SMK Muhammadiyah Kandanghaur.
“Yang menabrak anak perempuan itu anak SMK Muhammadiyah Kandanghaur,” ujar A.
A juga menjelaskan bahwa sebelum kejadian dirinya bersama beberapa rekannya hanya berkeliling menggunakan sepeda motor dan kemudian berniat pulang ke rumah.
“Awalnya mau pulang habis muter-muter,” katanya.
Menurut pengakuannya, sebagian besar teman-temannya telah lebih dulu meninggalkan lokasi sehingga saat itu dirinya hanya bersama satu orang rekannya.
“Awalnya berdua, yang lainnya sudah pada pulang,” tambahnya.
Terkait dugaan kepemilikan senjata tajam yang terlihat dalam video, A membenarkan bahwa benda tersebut memang ada. Namun ia menegaskan bahwa dirinya bukan pemilik maupun pembawa sajam tersebut.
Menurut A, senjata tajam itu dibawa oleh rekannya berinisial D yang juga merupakan siswa SMAN 1 Losarang. Saat kejadian, dirinya hanya mengendarai sepeda motor milik D.
“Kalau membawa sajam memang benar ada, tetapi bukan saya yang membawa. Yang membawa D karena saya yang mengemudikan motor NMAX milik D,” terangnya pada Jumat (5/6/2026).
Lebih lanjut, A membenarkan bahwa tiga pelajar yang terlihat dalam video berboncengan menggunakan seragam sekolah adalah dirinya bersama D dan seorang rekannya berinisial I.
“Yang di video itu saya, D, dan I. Kami memakai seragam sekolah dan saat itu mau pulang,” ujarnya.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat karena muncul di tengah prestasi yang berhasil diraih siswa-siswi SMAN 1 Losarang. Banyak pihak berharap keberhasilan pelajar yang mengharumkan nama sekolah dan daerah dapat terus ditingkatkan melalui pembinaan karakter, disiplin, serta pengawasan yang lebih intensif.
Masyarakat juga berharap aparat penegak hukum, pihak sekolah, dan orang tua dapat bersinergi dalam melakukan pembinaan terhadap para pelajar agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Prestasi dan kedisiplinan diharapkan dapat berjalan beriringan sehingga citra dunia pendidikan tetap terjaga dan generasi muda dapat tumbuh menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya.
(Atim Sawano)
















