Media Rajawalinusantara TV
Jakarta, 20 Juli 2025 — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, tokoh nasional dan pakar hukum internasional, Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH, menegaskan keyakinannya bahwa Presiden RI Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto tidak akan melupakan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Dalam wawancara via sambungan telepon dari markas pusat Partai Oposisi Merdeka di kawasan Kalisari, Cijantung, Jakarta, Prof. Sutan menyampaikan keprihatinannya atas semakin tenggelamnya nama-nama pejuang 1945, baik dari kalangan rakyat biasa, kerajaan, maupun para veteran yang hingga kini masih hidup dalam kondisi memprihatinkan.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah hanya menjadi teks di buku. Banyak pejuang dan keluarga mereka hidup dalam kemiskinan. Ini ironi di tengah 80 tahun kemerdekaan yang kita rayakan,” ujarnya.
Mengingat Kembali yang Terlupakan
Prof. Sutan mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menengok sejarah secara jujur dan terbuka. Ia menilai masih banyak nama-nama pejuang yang belum diungkap, baik karena kurangnya dokumentasi maupun tertutupnya akses terhadap narasi sejarah lokal yang otentik.
“Perjuangan kemerdekaan itu tidak gratis. Kita merdeka karena darah, air mata, dan harta yang dikorbankan rakyat di seluruh pelosok nusantara. Sudah saatnya nama-nama mereka ditorehkan kembali dalam sejarah Indonesia yang sebenarnya,” katanya.
Londo Ireng dan Politik Adu Domba Penjajah
Prof. Sutan juga menyinggung peran besar para penjajah, khususnya Belanda dan VOC, dalam menjalankan strategi devide et impera (politik pecah belah). Menurutnya, tak sedikit rakyat pribumi yang direkrut menjadi “opas” atau “londo ireng”, istilah untuk penjaga yang membantu kolonial Belanda melawan bangsanya sendiri.
“Londo ireng, atau para opas, menjadi alat penjajah. Mereka diberi kekuasaan kecil untuk mengawasi, menangkap, dan bahkan membunuh para pejuang. Pengkhianatan ini bagian kelam sejarah kita, tapi harus diakui agar tidak terulang,” ungkapnya.
Ia mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh besar seperti Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, dan Imam Bonjol bisa ditangkap karena peran dari para pengkhianat dalam negeri.
Kontribusi Daerah: Dari Emas hingga Jiwa Raga
Prof. Sutan turut mengungkap kontribusi luar biasa dari berbagai daerah, seperti sumbangan 25 kilogram emas dari para saudagar Aceh untuk kemerdekaan RI, serta sumbangan emas Monas oleh pengusaha asal Aceh, Teuku Markam, seberat hampir 30 kilogram.
Ia juga menyebut Kerajaan Siak Indrapura yang menyumbangkan 13 juta gulden (setara lebih dari Rp1,4 triliun saat ini) untuk mendukung pemerintahan Republik Indonesia.
“Jangan lupakan peran para kerajaan dan saudagar Nusantara. Mereka berjuang dan berkorban dengan sumber daya luar biasa. Ini harus dihormati dan dicatat kembali dalam sejarah bangsa,” ujar Prof. Sutan.
Pesan untuk Presiden dan Rakyat Indonesia
Di akhir pernyataannya, Prof. Sutan Nasomal menyerukan agar Presiden Prabowo memperluas peringatan HUT RI ke berbagai daerah, terutama di lokasi-lokasi kelahiran para pejuang. Ia juga mendesak pemerintahan pusat untuk menindak tegas oknum pengkhianat bangsa masa kini, mulai dari koruptor, mafia hukum, hingga penguras kekayaan alam daerah.
“Kemerdekaan ini milik rakyat, bukan segelintir elit. Hukum jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kalau kita tidak melawan pengkhianat dari dalam, arah terpecahnya NKRI akan makin jelas terlihat,” tegasnya.
“Saatnya menghidupkan kembali semangat melawan. Bukan lagi melawan penjajah asing, tapi melawan para oknum pengkhianat bangsa dari dalam negeri sendiri.”
Narasumber:
Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH
Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional,
Presiden Partai Oposisi Merdeka,
Jenderal Kompii,
Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus, Jakarta
Kontak: 08118419260
















